رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
Rabbanā lā tuzig qulūbanā ba‘da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladunka raḥmah(tan), innaka antal-wahhāb(u).
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia sering kali berubah dan kadar keimanan seseorang kadang berfluktuatif. Kadang begitu tebal keimanan kita sehingga kita bukan hanya begitu bersemangat menunaikan ibadah wajib, tetapi juga begitu antusias mengerjakan ibadah sunnah. \r\n\r\nTerkadang pula kadar keimanan kita menipis sehingga membuat kita malas beribadah bahkan terjerumus dalam perbuatan yang diharamkan oleh Allah. Pernahkah kita begitu bersemangat dan khusyuk dengan shalat malam, pada suatu hari, tetapi mulai malas pada hari-hari yang lain? \r\n\r\nDoa ini adalah perisai agar hati kita tetap dalam Islam, bersemangat dalam Islam, dan jangan sampai keimanan kita terdegradasi bahkan berpaling dari Islam (lā tuzig qulūbanā).
QS. Ali Imran [3]: 8