رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْٓ اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
Rabbanagfir lanā żunūbanā wa isrāfanā fī amrinā wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn(a).
Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.
Penjelasan
Ayat/doa ini diturunkan sebagai bagian dari ayat-ayat kritikan terhadap pasukan Islam yang tidak taat kepada perintah Rasulullah ﷺ saat perang Uhud hingga menyebabkan kekalahan bagi umat Islam. Namun demikian, doa ini secara spesifik diucapkan oleh pengikut para nabi terdahulu (disebut ribiyun) yang setia membela agama Allah hingga ke medan pertempuran sekalipun. \r\n\r\nDoa ini menjelaskan bahwa dalam situasi berjuang membela agama Allah, misalnya dalam keadaan perang, bisa saja seseorang melakukan tindakan berlebihan atau melampaui batas yang ia sesali di kemudian hari. \r\n\r\nJurnalis perang terkemuka Chris Hedges dalam bukunya, War Is a Force that Gives Us Meaning, pernah menulis, "Perang adalah (seperti) narkoba." Maksudnya, bukan hanya perang dapat membuat kita ketagihan tetapi juga dapat membuat kita melakukan perbuatan di luar batas kewajaran dan kemanusiaan. \r\n\r\nDalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa saja berlebihan bahkan melampaui batas sekalipun niat kita baik. Rasulullah ﷺ , misalnya, pernah mengingatkan sahabatnya agar tidak berlebihan dalam berwudhu sekalipun ia berwudhu di pinggir sungai dengan air yang melimpah. \r\n\r\nDoa ini dapat menjadi pengingat dan pelindung bagi kita agar tidak berlebih-lebihan yang dapat berujung pada kerugian bagi kita sendiri. Sebab Allah menyukai moderasi dan tidak menyukai perbuatan yang berlebih-lebihan.
QS. Ali Imran [3]: 147