Mohon ampunan Allah (Doa Tobat Nabi Adam)

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Rabbanā ẓalamnā anfusanā wa illam tagfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn(a).

Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.



Penjelasan

Doa populer di kalangan umat Islam ini diucapkan oleh Nabi Adam as. dan Siti Hawa ketika mereka sadar telah melanggar perintah Allah. Mereka berdua diperbolehkan tinggal dan melakukan apa saja di surga kecuali mendekati sebuah pohon dan memakan buahnya, yang disebut oleh Iblis sebagai buah Khuldi.\r\n\r\nTidak ada riwayat yang kuat tentang seperti apa buah tersebut. Namun Al-Qur'an menjelaskan bahwa setelah memakan buah tersebut terbukalah aurat Nabi Adam as. dan Siti Hawa. Mereka pun sadar telah membuat kesalahan.\r\n\r\nAda yang mengatakan bahwa buah Khuldi tidaklah spesial dan larangan memakannya—pada esensinya—adalah suatu bentuk ujian dari Allah untuk menguji kepatuhan Nabi Adam as. dan Siti Hawa pada perintah dan larangan-Nya. \r\n\r\nAda pula yang menafsirkan keinginan mencicipi buah Khuldi yang terlarang sebagai perumpamaan nafsu manusia yang tidak pernah puas meskipun berada dalam kecukupan atau berada di tempat yang baik. Sehingga ia masih terus bernafsu mencari sesuatu yang belum ia miliki sekalipun hal itu terlarang.\r\n\r\nSingkat cerita, Iblis berhasil membujuk Nabi Adam as. dan Siti Hawa untuk memakan buah Khuldi. Namun demikian, Nabi Adam as. dan Siti Hawa menunjukkan keteladanan mereka dengan bertanggung jawab penuh atas perbuatan yang mereka lakukan.\r\n\r\nSekalipun dibujuk dan ditipu oleh Iblis hingga melanggar perintah Allah, Nabi Adam as. dan Siti Hawa tidak menyalahkan siapa-siapa kecuali diri mereka sendiri. Meraka berujar, “Sungguh kami telah menganiaya diri kami sendiri.”\r\n\r\nPasalnya, Iblis bisa saja membujuk, tetapi keputusan akhir ada pada mereka berdua untuk mengikuti bujukan atau menolaknya. Menurut Ibnu Katsir, ini adalah salah satu syarat utama taubat di mana seseorang harus pertama-tama mengakui kesalahannya sendiri dan berani memikul tanggung jawabnya. Kemudian seseorang yang bertaubat tentunya harus berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. \r\n\r\nHal penting lainnya yang tersirat dari doa ini adalah siapa pun kita, baik nabi maupun raja sekalipun, jika Allah “tidak mengampuni dan merahmati” kita, maka kita kelak termasuk ke dalam “orang-orang yang merugi.” Sebab sehebat apa pun kita, tanpa ampunan dan rahmat Allah, kita bukan siapa-siapa.\r\n\r\nReferensi: Tafsir Ibnu Katsir

QS. Al-A'raf [7]: 23