Doa pengakuan keterbatasan pengetahuan

 

رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ ۗوَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

Rabbi innī a‘ūżu bika an as'alaka mā laisa lī bihī ‘ilm(un), wa illā tagfir lī wa tarḥamnī akum minal-khāsirīn(a).

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.



Penjelasan

Ketika banjir besar dengan "gelombang laksana gunung-gunung" mulai menggulung umat Nabi Nuh as. yang ingkar, Nabi Nuh as. melihat anaknya sendiri yang bernama Kan’an sedang berupaya menyelamatkan diri. \r\n\r\nNabi Nuh as. pun iba dan berdoa agar Kan’an, yang menolak mengimani Allah, diberi keselamatan oleh Allah. Pada titik inilah, Allah menegur sang Nabi agar tidak “memohon sesuatu yang tidak [ia] ketahui hakikatnya.” \r\n\r\nDalam hal ini, Allah memberikan pelajaran kepada sang Nabi (dan kita semua) bahwa hanya Allah sajalah yang Maha Tahu akan hakikat segala sesuatu—baik yang tampak maupun tak tampak, baik yang sekarang maupun yang masa mendatang. \r\n\r\nSementara itu, sebanyak-banyaknya ilmu yang dimiliki oleh manusia pastinya tidak lebih dari satu tetes ilmu saja di antara samudera ilmu yang dimiliki oleh Allah. Oleh karenanya, manusia hendaknya senantiasa rendah hati dan memohon hidayah atau petunjuk dari sang Maha Tahu. \r\n\r\nSetelah menegur Nabi Nuh as., Allah menjelaskan kepada sang Nabi bahwa Kan’an bukanlah anak yang memiliki perilaku dan hati yang baik sehingga pantas untuk diselamatkan. Dalam surat At-Tahrim dijelaskan bahwa selain putra Nabi Nuh, Istri Nabi Nuh juga termasuk orang-orang yang tidak diselamatkan pada hari banjir besar itu karena keburukan dan pengkhianatan mereka terhadap “hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami,” yaitu Nabi Nuh as. \r\n\r\nBayangkan saja: Nabi Nuh as. telah berdakwah selama 950 tahun, tetapi mereka—istri dan anak Nabi Nuh as. sendiri—yang setiap hari melihat kemulian sifat sang Nabi dan mendengar ajaran Allah justru berkhianat dan menjadi penentang dakwah sang Nabi. \r\n\r\nSeandainya Kan’an dan ibunya diselamatkan, misalnya, belum tentu mereka akan mengikuti ajaran Allah secara terus-menerus. Bisa saja mereka malah lupa dan kembali menjadi duri dalam daging bagi kehidupan dan dakwah Nabi Nuh as. \r\n\r\nAllah pun mengganti mereka dan menganugrahkan istri dan keturunan yang lebih baik untuk Nabi Nuh as. di kemudian hari. Hanya Allah-lah yang Maha Tahu dan Maha Pemberi nikmat.

QS. Hud [11]: 47