Mohon kefasihan berbicara

 

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

Rabbisyraḥ lī ṣadrī. Wa yassir lī amrī. Waḥlul ‘uqdatam mil lisānī. Yafqahū qaulī.

Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.



Penjelasan

Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Musa as. sebelum menghadapi Fir’aun, yaitu sebutan raja di Mesir pada zaman dahulu. Ada sejarawan yang mengatakan bahwa Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa as. adalah Ramses II, ada pula yang mengatakan Ramses III atau lainnya. Namun demikian, doa Nabi Musa as., yang termaktub dalam surat Thaahaa ayat 25-28, terbagi menjadi tiga bagian.\r\n\r\nPada bagian ketiga, Nabi Musa as. berdoa, “Lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.” Dalam doa ini Nabi Musa as. berharap diberikan kemudahan dan kefasihan dalam menjelaskan ajaran Allah hingga dapat dipahami oleh Fir’aun dengan mudah. \r\n\r\nMengapa demikian? Ada yang mengatakan bahwa Nabi Musa as. pernah terluka lidahnya ketika masih kecil hingga kesulitan berbicara. \r\n\r\nAda pula yang berpendapat bahwa Nabi Musa as. telah meninggalkan Mesir dan menetap di negeri Madyan selama lebih dari 8 tahun. Sehingga beliau pun kini lebih terbiasa berbicara bahasa bangsa Madyan (mungkin lebih mirip ke bahasa Arab) ketimbang bahasa bani Israil saat itu, yaitu bahasa (proto) Ibrani, dan bahasa Mesir pada saat itu, yaitu bahasa Mesir Pertengahan/Akhir, yang dulu pernah beliau as. kuasai dengan baik. \r\n\r\nDi Madyan, Nabi Musa as. menikahi putri Nabi Syu’aib, Shafura, yang (kemungkinan besar) berbahasa bangsa Madyan dan keduanya pun tinggal di sana hingga Allah memerintahkan sang Nabi pindah ke Mesir. Oleh karena itu, wajar bila Nabi Musa as. berdoa agar dimudahkan dalam berbicara dan berdakwah kepada Fir’aun dan kaumnya di Mesir, sebuah tempat yang telah lama beliau tinggalkan dan dengan bahasa yang telah lama beliau tidak gunakan. \r\n\r\nJika kita, misalnya, tidak menggunakan bahasa Indonesia selama lebih dari 8 tahun, kemudian diminta untuk presentasi bahkan berdebat dalam bahasa Indonesia, tentu kita bisa saja lupa dengan banyak kata dan istilah yang tepat. \r\n\r\nMenariknya, faktor kefasihan berbicara inilah yang digunakan oleh Fir’aun untuk menyerang Nabi Musa as. Setelah bertubi-tubi kalah oleh mukjizat Nabi Musa as. dan setelah mendapat beberapa azab dari Allah, Fir’aun yang sudah kehabisan amunisi mencoba mendiskreditkan Nabi Musa as. dengan argumen yang menyerang pribadi. Ia pun berkata kepada bangsa Mesir, “Bukankah saya (Fir’aun) lebih mulia daripada dia (Musa) yang hina/rendahan dan hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” \r\n\r\nSayangnya, sebagian bangsa Mesir termakan oleh alasan remeh Fir’aun yang hanya fokus pada tampilan—bukan pada kandungan pesan. Dan oleh sebab itulah, dalam Al-Qur'an dijelaskan, Allah menjadi murka dan menenggelamkan mereka. \r\n\r\nReferensi: Tafsir Al-Jalalain, Az-Zukruf (43: 52-55)

QS. Taha [20]: 25-28