Mohon dimudahkan urusan yang berat

 

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

Rabbisyraḥ lī ṣadrī. Wa yassir lī amrī. Waḥlul ‘uqdatam mil lisānī. Yafqahū qaulī.

Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.



Penjelasan

Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Musa as. sebelum menghadapi Fir’aun, yaitu sebutan raja di Mesir pada zaman dahulu. Ada sejarawan yang mengatakan bahwa Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa AS adalah Ramses II, ada pula yang mengatakan Ramses III atau lainnya. Namun demikian, doa Nabi Musa as. , yang termaktub dalam surat Thaahaa ayat 25-28, terbagi menjadi tiga bagian.\r\n\r\nBagian kedua doa Nabi Musa as. kepada Allah adalah, “Mudahkanlah urusanku.” Pada zaman itu, Fir’aun adalah raja diraja dengan kekuasaan yang besar dan absolut. Belum ada hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, serta belum ada pengadilan independen yang dapat menengahi suatu perkara pada zaman itu. \r\n\r\nUcapan Fir’aun adalah perintah dan hukum. Bahkan negara adalah Fir’aun itu sendiri. Ketika ia memerintahkan tentaranya untuk melakukan pembunuhan massal terhadap seluruh bayi laki-laki dari suku Israil, tidak ada seorang pun yang dapat membantahnya. Fir’aun dapat dan telah bersikap bagai “Tuhan” di muka bumi ini. Terhadap kekuasaan yang begitu besar dan zalim tersebut, Allah mengutus hambanya yang “lemah”, yaitu Nabi Musa as., untuk memperingati Fir’aun. \r\n\r\nLemah artinya bahwa selain tidak berkuasa (baca: tidak mempunyai tentara), Nabi Musa as. juga memiliki dua kelemahan sosial lainnya, yang lazim disebut “double minority”. \r\n\r\nPertama, Nabi Musa as. bukanlah berasal dari bangsa Mesir, melainkan dari suku Israil yang diperbudak oleh Fir’aun. Dengan kata lain, ia berasal dari kaum kelas dua, terendah, dan terjajah. \r\n\r\nKedua, Nabi Musa as. beragama berbeda. Maksudnya, Nabi Musa as. justru datang membawa ajaran tauhid (monoteisme) yang berbeda dengan kepercayaan politeisme yang dianut oleh Fir’aun dan bangsa Mesir pada saat itu. \r\n\r\nDi titik inilah, Allah mengutus Nabi Musa AS untuk berdakwah. Dan sang Nabi pun memohon agar urusannya, atau jihadnya, dalam menyampaikan ajaran Allah kepada Fir’aun diberikan kemudahan. Mengapa dapat pula dikatakan jihad? Sebab Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa, “Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” Itulah yang dilakukan oleh Nabi Musa as. Dan itu tentunya bukanlah perkara mudah. \r\n\r\nReferensi: Tafsir Al-Jalalain; HR. Abu Dawud no. 4344

QS. Taha [20]: 25-28