Mohon lapang dada

 

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

Rabbisyraḥ lī ṣadrī. Wa yassir lī amrī. Waḥlul ‘uqdatam mil lisānī. Yafqahū qaulī.

Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.



Penjelasan

Doa ini dipanjatkan oleh Nabi Musa as. sebelum menghadapi Fir’aun, yaitu sebutan raja di Mesir pada zaman dahulu. Ada sejarawan yang mengatakan bahwa Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa as. adalah Ramses II, ada pula yang mengatakan Ramses III atau lainnya. Namun demikian, doa Nabi Musa as., yang termaktub dalam surat Thaahaa ayat 25-28, terbagi menjadi tiga bagian.\r\n\r\nBagian yang pertama adalah, “Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku”. Nabi Musa as. memohon kepada Allah agar dilapangkan dadanya agar wahyu dan pengetahuaan yang datang dari Allah dapat ia terima dengan baik. \r\n\r\nCangkir yang kecil tentu tak akan bisa menampung guyuran air yang besar. Begitu pula dengan hati yang kecil tentu tidak bisa menampung besar dan beratnya wahyu Allah. Oleh sebab itu, Nabi Musa as. memohon agar Allah berkenan melapangkan dadanya agar ia dapat menampung wahyu Illahi dengan baik. \r\n\r\nSejatinya, mendapat wahyu dari Allah adalah suatu peristiwa yang amat besar dan berat. Rasulullah ﷺpernah menceritakan betapa beratnya penerimaan wahyu sampai-sampai beliau bercucuran keringat di hari yang dingin. \r\n\r\nPernah pula Rasulullah ﷺmenerima wahyu ketika beliau berada di atas tunggangan ontanya hingga bagian perut onta itu menempel ke tanah karena tak sanggup menahan beban. \r\n\r\nDi tambah lagi, perintah Allah kepada Nabi Musa as. untuk berdakwah kepada raja yang zalim seperti Fir’aun. Tentu ini adalah sebuah tekanan dan tantangan yang berat. Kita sendiri saja bila sedang menghadapi tekanan hidup kadang bisa termengah-mengah dan sulit bernafas. Apalagi, bila diberikan amanah untuk menyampaikan kebenaran kepada seorang raja yang perkasa tapi zalim. \r\n\r\nOleh sebab itu, permintaan Nabi Musa as. untuk dilapangkan dadanya sejatinya bukan hanya permintaan agar dilapangkan dadanya dalam menerima wahyu, tetapi juga permintaan agar beliau dilimpahkan kepercayaan diri, ketenangan, dan keberanian dalam menghadapi Fir’aun dan segala macam cobaan yang akan datang. \r\n\r\nJika benar bahwa Fir’aun yang dihadapi oleh Musa as. adalah Ramses II, maka sejatinya Nabi Musa as. menghadapi Fir’aun yang betul-betul perkasa dengan bala tantara yang mumpuni. Saking berkuasanya Ramses II, ia pun disembah bagaikan salah satu tuhan/dewa oleh bangsa Mesir. \r\n\r\nMemang benar bahwa sebelum Ramses II atau Ramses III berkuasa, ada seorang Fir’aun bernama Amenhotep IV (atau lebih dikenal, Akhenaten) yang mengadopsi monoteisme. Namun demikian, ajaran moneteisme itu tidak bertahan lama dan kembali digantikan oleh politeisme bahkan penyembahan langsung kepada Fir’aun sebagai tuhan/dewa hidup. \r\n\r\nTerhadap Fir’aun yang telah melampaui batas inilah, Allah memerintahkan Musa as. untuk menasehatinya. Wajar tentunya bila sang Nabi, pertama-tama, meminta kelapangan dada dalam mengemban misi kenabian yang penuh marabahaya ini. \r\n\r\nReferensi: Tafsir Al-Jalalain; HR. Ahmad no. 26241 & 24912

QS. Taha [20]: 25-28